Khayalan Tingkat Tinggi

9 02 2009

Tidak semua orang bisa belajar dengan cara yang sama. Ada yang bisa dengan mudah melakukan virtual listing atau khayalan tingkat tinggi dalam otak kepalanya, lalu menghafalkan dan memahaminya. Tapi sebagian orang harus menciptakan sebuah ilustrasi, mereka sebentuk diagram, atau seperti meletakkan benda-benda dalam sebuah ruangan, sehingga melihat jelas hubungannya antara satu komponen dan lainnya. Itulah kenapa para siswa seringkali diberikan kertas untuk mencoret dan menghitung pada saat ujian yang terkait dengan hitung-menghitung.

Read the rest of this entry »

Advertisements




Ujian Akhir Nasional (UAN) Sebagai Issue Kritis Pendidikan

27 04 2008

Beberapa hari trakhir dimana-mana banyak orang ngobrolin UAN, trutama bapak-bapak & ibu-ibu di kantor yang punya anak usiya sekolah. Kadang seru juga ngikutin obrolan mereka, tentang tes-tes yang super susyah, murid-murid yang sibuk nyari bocoran kemana-managuru-guru yang katanya banyak “membantusiswa di ujiyan. Juga “ketidakadilan” kebijakan UAN di mata mereka.

Membicarakan “ketidakadilan” UAN ini, tak akan lepas dari proses pembelajaran yang telah berlangsung di negri ini, yang mana “katanya” telah dijamin oleh undang-undang. Dimana projek UAN oleh pemerintah dimaksudkan untuk mendapatkan output pendidikan yang berkualitas, namun di satu sisi kemampuan pemerintah dalam merealisasikan anggaran pendidikan yang mencukupi masih jauh dari harapan, dengan realisasi yang jauh di bawah 20 persen APBN. Hal ini berarti, upaya membangun dunia pendidikan masih jauh dari tuntutan perubahan. Bahkan pendidikan yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara, kini seakan dibebankan kepada rakyat.

Berikut ada artikel menarik dari pak Ngadirin mengkritisi kebijakan UAN dan pendidikan di republik ini…

Oleh: Ngadirin – Universitas Negeri Jakarta

Pendahuluan

Pendidikan merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan di setiap negara. Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2004 pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan segala potensi yang dimiliki peserta didik melalui proses pembelajaran. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi anak agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, berkepribadian, memiliki kecerdasan, berakhlak mulia, serta memiliki keterampilan yang diperlukan sebagai anggota masyarakat dan warga negara. Untuk mencapai tujuan pendidikan yang mulia ini disusunlah kurikulum yang merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan dan metode pembelajaran. Kurikulum digunakan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Untuk melihat tingkat pencapaian tujuan pendidikan, diperlukan suatu bentuk evaluasi.
Read the rest of this entry »