Ketika Cinta Bertasbih Survey ke Mesir

3 05 2008

Waktu pertama denger brita bahwa Ketika Cinta Bertasbih bakal dipelemkan, mengikuti jejak Ayat-Ayat Cinta, saya sudah excited bin seneng banget. Naah sekarang membaca berita ini jadi mangkin excited binti jingkrak-jingkrak sangad, apalagi saat menceritakan tempat-tempat yang bakal menjadi lokasi syutingnya nanti. Dari mulai kampus Al-Azhar Cairo, pantai di Alexandria, pasar Khan Al Kalili Cairo, KBRI di Cairo sampek view benteng Qait Bay di Alexandria.

Survey yang dilakukan oleh tim “Ketika Cinta Bertasbih” dari Sinemart ini juga diikuti Kang Abik, yang membuktikan kebenaran brita bahwa Kang Abik memang turut terjun langsung dalam persiyapan pembuwatan pelem ini. Skedul syutingnya memang masih cukup lama, Oktober 2008, jadi masih cukup banyak waktu buwat ngasting para pemerannya dengan lebih cermat lagi. Dari berbage rumor gak jelas sih calon bakal pemeran Azzam adalah Dude Harlino… whhaatt..emangnya shitnetrong? Dude menurut saya sama sekali tidak berkesan “pejantan tangguh™”, terlalu cute dan kurang njawani. Untuk itulah sebage peng-casting independen, saya mencoba tuk merilis beberapa keriteriya kerusiyal tuk menjadi acuwan dalam pemilihan pemeran tokoh Khairul Azzam di pelem KCB nanti, dan inilah keriteriya-keriteriya tersebut:

1. alim aseli™ (ini sangad kerusiyal, secara diya nanti bakal berakting alim™. jadinya pas ada tuntutan berakting alim™ diyanya nggak kagok, dan pas diya berakting alim™ di pelem nanti gak bakal ada kesan berlagak alim™, secara aseli™ nya diya emang alim sejati™, dan imho, lebih bagus kalok pemerannya bukan dari kalangan artes bin silitbrintik)

2. tampang pejuwang (ngebaca karakter Azzam di novel KCB yang digambarkan sebage sosok pejantan pejuwang tangguh bagi kluwarganya, pengganti ayah bagi adek2nya, sekaligus sebage enterpreneur gigih di sela-sela kesibukan setudinya, maka sosok bertampang cute, imoet, baby face, anak mami dan sederet peredikat njijiki laennya tentu bakal sangat tidak cucok, karna itulah karakter Azzam selayaknya diperankan sosok berparas ndoyok tangguh, yang mencirikan kekenyangan akan berbage pahit-getir pengalaman hidup, dan memancarkan ketulusan serta keramahan khas yang alim dan njawani, syapakah itu? ya mari kita tunggu hasil gugling casting Kang Abik dkk, semoga casting yang ini lebih baik dari AAC)

3. memahami dan menguwasai javascript™ (kisah novel yang bertokohkan seorang Azzam anak ndeso dari Jawa Tengah, imho akan lebih hidup jika percakapan yang terbangun tidak meninggalkan diyalek dan logat jawa yang medok, lengkap dengan gojekan kere-nya. kalaupun pemenang casting nantinya bukan orang jawa, teuteub diya kudu bisa dan mampu menguwasai logat dan bahasa javascript™ yang medok, anggeplah sebage pendalaman karakter. khan nggak lucu, nyeritain orang jawa tapi ngomongnya Jakarte banget! kayak AAC jadinya… )

Yaaah itulah 3 biji keriteriya harapanku…cuma sedikit usulan untuk proses casting “Ketika Cinta Bertasbih”, karena kebetulan saya termasuk penggemar beratnya, bahkan dibanding Ayat-Ayat Cinta saya malah jauh lebih suka dwilogi Ketika Cinta Bertasbih ini.

Dibawah adalah woro-woro dari situsnya sinemart.

HUNTING LOKASI FILM KETIKA CINTA BERTASBIH KE MESIR

Dalam mengadaptasi buku best seller KETIKA CINTA BERTASBIH ke layar lebar, pihak Sinemart Pictures benar-benar menunjukkan keseriusannya, hal ini diperlihatkan dengan keberangkatan rombongan Sinemart bersama sang Penulis Habiburrahman, Sutradara Chaerul Umam, Penulis Skenario Imam Tantowi, dll ke Mesir untung hunting lokasi 16 s/d 26 April 2008 ini. Tujuan hunting ini sendiri jelas agar dalam pembuatan filmnya nanti benar-benar mendapatkan suasana yang tergambar di dalam Novelnya tersebut, dimana dibuku 1 KCB ini memang keselurahannya bercerita di Mesir.

Selain hunting lokasi yang perlu juga dicari adalah mencari production house (PH) lokal untuk diajak bekerja sama, lalu melobi pemerintah setempat perihal izin syuting. Karena rencananya lokasi syutingnya banyak di tempa-tempat yang memang selama ini sulit mendapatkan izinnya seperti Kampus Al-Azhar Cairo, bibir pantai Alexandria, pasar Tradisional, flat mahasiswa Indonesia, hingga Hotel Le Meridien (kini menjadi Grand Hyatt).

Soal izin, pemerintah Mesir memang cukup cerewet. Tidak sembarang tempat boleh difoto, apalagi difilmkan. Bahkan, saat tiba di Cairo International Airport pun kru film KCB sedikit mendapat kendala karena membawa kamera video.

Untungnya angin positif diterima tim saat beraudiensi ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Cairo di Garden City, Cairo, Rabu malam (16/4) atau sekitar pukul 15.30 waktu setempat. Dubes Abdurrahman Mohammad Fachrir menyambut positif keinginan tim untuk melakukan syuting di Mesir. termasuk juga di area Kedutaan, karena dalam ceritanya salah satu tokohnya Eliyana memang adalah anak seorang Duta Besar. Gedung Kedubes RI yang putih bersih ini sendiri memang kelihatan beda dibanding dengan sebagian besar gedung-gedung di Kairo yang berwarna senada dengan pasir karena Kairo memang sering diterpa angin debu.

Pihak KBRI juga mendampingi tim dalam pertemuan dengan Lembaga Sensor Film, Rumah Produksi, maupun saat bertemu dengan pengusaha perfilman setempat.

Kamis (17/04) silam, project officer Dani Sapawie, sutradara Chaerul Umam, aktor/konsultan KCB di Mesir Umar Lubis, beserta staf KBRI Cairo bidang Informasi, Sosial, dan Kebudayaan Danang Waskito diterima langsung oleh Manager of Foreign Film Censorship Cairo Manal Kamal El Din di kawasan Giza.

Selain memberikan dukungan penuh, Manal juga berharap agar syuting KCB dapat segera terealisasi. Utamanya, ia memberikan informasi terkait prosedur yang harus dilakukan untuk memproduksi sebuah film layar lebar di negeri para Nabi itu.

Sambutan positif itu juga datang dari beberapa instansi penting di Cairo, yang berkewenangan untuk memberikan izin serta koridor syarat yang harus dipenuhi oleh tim produksi KCB.

Beberapa kaidah yang diminta adalah skenario yang terlebih dahulu di sunting ke bahasa Arab untuk di-screening, juga persetujuan dari instansi pemerintah Mesir lainnya seperti Departemen Dalam Negeri.

Dukungan positif dari berbagai pihak ini tentu saja membawa angin positif bagi tim KCB. ”Kami semakin optimistis. Ternyata tidak sesulit yang diduga sebelumnya,” ujar Dani Sapawie. ”Dukungan ini kami dapat karena KCB bakal mengungkap berbagai hal positif tentang Mesir dan Indonesia,” ia menambahkan.

Danang Waskito sendiri mengungkap bahwa pihaknya akan terus membantu menyertai tim sesuai dengan kerangka kebijakan dan kewenangan KBRI Cairo. Karena kemudahan tersebut, bahkan agenda yang dijadwalkan selama dua hari dimampatkan jadi sehari saja.

Agenda itu antara lain, melihat peralatan syuting di Industrial Video Cassette Center di kawasan Pyramid Street, bertemu dengan Mamdouh El-Leithy, chairman of Egyptian Cinematographics, serta mendatangi Egyptian Media Production City (EMPC), yang merupakan pusat fasilitas produksi film dan televisi terbesar ketiga di dunia setelah Hollywood dan India.

EMPC terletak di 6th of October City, sekitar 30 km disebelah barat Cairo atau 10 km dari Piramida Giza. Studio ini disebut the Hollywood from the East karena kelengkapan fasilitasnya. Luas EMPC mencapai 3 juta meter persegi dan membutuhkan waktu 10 tahun untuk membuatnya.

Butuh sekitar USD400 juta untuk membangun 15 studio outdoor dengan berbagai tema yang bisa dirubah sesuai kebutuhan syuting. Disana ada replika sudut-sudut kota Cairo seperti Garden City, pasar Khan Khalili, beberapa bagian kota Alexandria, Luxor, set era Mesir Kuno lengkap dengan piramida dan Sphinx, set hutan, set area militer, pedesaan, dan lainnya.

Tim KCB mengaku terkesan saat berkeliling di studio outdoor EMPC yang juga dijadikan wisata turis itu. Terutama, ketika menemukan setting yang pas seperti replika sekolah Al-Azhar hingga pasar Khan Khalili yang memang menjadi kebutuhan syuting.

Sebelum ke Studio ini Tim artistik film KCB yang dipimpin El Badrun juga sudah mulai hunting ke flat-flat mahsiswa asal asia tenggara yang ada di Kairo. Mulai dari flat murah-sedang seharga 600-800 pound Egypt yang setara dengan Rp1 juta-1,2 Juta yang merupakan setting tempat tinggal tokoh utama KCB Khairul Azzam yang dalam ceritanya merupakan seorang mahasiswa yang nyambi kerja membuat tempe dan bakso untuk membiayai keluarganya di Indonesia, sampai dengan Flat yang cukup mewah yang disewa tokoh lainnya Anna Althafunnisa dan kawan kawan.

Fokus utama sang penata artistic ke Mesir ini memang untuk mendapatkan keindahan eksterior Kairo yang sangat sulit ditiru. Untuk Tim berlanjut hunting ke Universitas Al Azhar yang memang sebagian besar tokoh dalam cerita ini berkuliah di Universitas Islam tertua ini,

Walaupun suhu di Kairo kadang-kadang bisa mencapai 42 derajat di saat peralihan musim ini tim hunting tetap bersemangat melakukan pengejaran lokasi ke pasar Khan Al Kalili dan Sayyeda Zaenab untuk mendapatkan gambaran suasana pasar di Kairo yang juga merupakan salah satu setting adegan dimana sang tokoh Khairul Azzam biasa berbelanja kedelei dan daging untuk membuat temped dan Bakso. Didekat pasar Khan Al Khalili ini juga terdapat toko buku Dar Al Salam yang sering didatangi mahasiswa-mahasiswa untuk membeli Muqarar (bahan kuliah).

Kegiatan hunting ini makin menarik ketika pencarian sampai ke pinggiran sungai Nil yang sangat menakjubkan. Sepanjang pinggiran sungi Nil terdapat taman-taman yang sangat rindang dan indah, apalagi di waktu malam ditambah dengan kilauan lampu-lampu dari jembatan Nil dan perahu-perahu yang berlayar membawa turis serta restaurant-restaurant yang terapung. Yang terpenting disini adalah hotel Le Meridian yang sekarang berganti jadi Grand Hyat , salah satu lokasi yang juga merupakan tempat penting dalam cerita ketika Furqan menginap ketika mempersiapkan diri untuk maju dalam sidang tesis S2 nya.

Hunting lokasi tim Film KCB di Mesir sekarang berlanjut ke kota Alexandria, yang berjarak sekitar 225 kilometer dari Kairo. Kota ini cukup penting penggambaran keindahan Mesir didalam Novel. Dimana dikota ini Azzam pertama kali ketemu dengan Ellyana putri sang Duta Besar.

Perjalanan Kairo-Alexandria ditempuh lebih kurang tiga jam. Kalau malam bisa lebih cepat. Sebab di siang hari ada batas kecepatan dibawah 100 km/jam yang dipantau oleh radar.
Jalanan lebar menuju Alexandria cenderung sepi. Sejauh mata memandang hanyalah ada hamparan pasir tandus berwarna coklat muda, dan sekali-sekali diselingi dengan hijau nya tumbuhan dari perkebunan-perkebunan seperti kurma, anggur dll.

Pemandangan Kota Alexandria memang indah, memasuki kota kita langsung disajikan pemandangan laut Mediterrania dikiri kita, dan dikanannya berderet gedung-gedung bergaya Eropa.

Antara lain, memilih dan memilah-milah tempat mana saja yang cocok untuk dijadikan syuting. Beberapa diantaranya adalah halaman hotel Helnan Palestine di kawasan taman Montazah yang rencananya akan dibuat syuting pesta dengan para dubes.

Ada beberapa adegan yyang akan disyut di Alexandria ini. Memang tidak banyak, tapi adegan-adegan ini yang menjadi kunci bahwa KCB memang benar-benar di syut di Alexandria, yang terkenal dengan keindahan pantainya.

Adegan kunci itu antara lain pesta para dubes yang rencananya digelar di Hotel Helnan Palestine. Pesta mewah itu akan dihadiri sekitar 50-an orang, dengan pemandangan buritan hotel, Mercusuar, serta laut Alexandria dibalut gemerlap lampu yang luar biasa indahnya. ”Ini adalah adegan kunci dalam KCB yang bakal dikemas megah,” ujar Dani Sapawie. Saking pentingnya adegan itu, tim KCB harus dua kali mengecek lokasi untuk melihat kondisi hotel di malam hari yang penuh gemerlap lampu. Disamping hotel ini terdapat juga bekas Istana Raja Farouk

Lalu adegan di Hotel El Haram di novel KCB, yang oleh tim dipindahkan ke Sofitel. Sofitel di pilih selain karena desainnya yang klasik dan kuno masih terjaga, juga karena balkonnya menghadap langsung ke benteng Qait Bay. Ini adalah adegan pembuka novel KCB saat karakter utama Khairul Azzam tepekur di balkon sambil memandangi Qait Bay dan garis pantai Alexandria.

Dua adegan lainnya adalah di depan Perpustakaan Alexandria dimana Khairul Azzam dan sopir Pak Ali sedang berjalan dan berdiskusi. Sementara lokasi lainnya, benteng Qait Bay. Hasil hunting di Alexandria ini cukup menjadikan perdebatan yang sengit dalam pemilihan lokasi adegan-adegan diatas tersebut antara penulis, sutradara, penulis novel, dan pihak yang mewakili produser, karena banyaknya pilihan titik-titik yang menarik untuk dijadikan tempat pengambilan gambar.

Kembali ke Kairo tim hunting mulai evaluasi hasil hunting dan kemungkinan-kemungkinan bisa atau tidaknya syuting di tempat-tempat yang telah dikunjungi dan dipilih. Selain itu juga kembali menemui beberapa PH yang akan dijadikan partner di Kairo ini selama proses syuting nanti. Termasuk dimasa ini meninjau kemungkinan izin-izin di tempat-tempat yang dipilih, alhamdulillah kelihatannya rata-rata hasilnya menunjukkan hal yang positif. Apalagi dihari terakhir Tim disana saat makan malam perpisahan dengan Pak Dubes AM Fachir beliau kembali menegaskan dungkungannya terhadap produksi film ini, dan beliau akan membantu semaksimal mungkin perihal perizinan-perizinan ini.

Dengan hasil yang baik ini tgl 25 April tim hunting film Ketika Cinta Bertasbih ini bisa kembali ke tanah air dengan perasaan lega dan optimis sesuai dengan harapan untuk bisa syuting di Mesir nanti sekitar bulan Oktober 2008.


Actions

Information

14 responses

3 05 2008
JB'lOg

Waahhh pasti seru neeh, semoga lebih seru dari AAC
Semoga pelemnya nanti lebih bisa mengeksploitasi keindahan kota kota dan tempat tempat sejarah nan eksotik di Mesir, kalo AAC kayaknya kurang tereksplor tuhh…

Gimana kakinya, dah sembuh kaah ??

3 05 2008
titov

@ uda Empi,
Yups, semoga bisa mengisi sgala kekurangan yg ada di AAC da…
di AAC kita “tidak melihat” Mesir, maka semoga di KCB semoga swasana Mesir dapat digambarkan dengan lebih baik, lengkap dengan kampus Al-Azharnya, sudut2 sungai Nilnya, pantai2 di Alexandria, pasar tradisiyonal Cairo yg sesungguhnya dlsbg…

Gimana kakinya, dah sembuh kaah ??

kaki udah lumayan da, jahitannya udah dilepas, tinggal recovery aja.
ngantor sih masih bersendal…🙂

3 05 2008
F@tM@

Wah ngebaca huntingnya aja kaya yang menikmati Mesir. Apalagi kalau ke samna ya… Jadi penegn ke sana??? Kapan ya….

3 05 2008
Tgk. Alex

Mudah-mudahan kalo jadi filmnya nanti ya, lebih bagus dari AAC kemarin itu. Jangan sampai dikatakan lagi sebagai bentuk lain pop-kultur yang dipoles kemasan islami.

Soalnya kebanyakan cerita begitu difilmkan justru melenceng dari cerita di bukunya😦

3 05 2008
zoel chaniago

film nya kapan di putar yach???? katanya sich syuting di mulai siap lebaran… promosinya dah heboh😛

3 05 2008
ckasih

================
================
NOW AVAILABLE CHRISTIANITY MADE IN MALAYSIA!!!
================
================
EVERY CHRISTIAN NOW MUST LEARN ARABIC. THE FIRST LESSON IS SAY “ALLAH” AND NOT “GOD”.
This is because English language not suitable anymore because the original Bible is in Arabic.

Get the full story here: http://ckasih.blogspot.com

3 05 2008
titov

@F@tM@,
yups, gara2 novel2 nya Kang Abik jadi minat dolan ke Mesir..🙂

@Tgk. Alex Curran,
iyak, jangan sampek trulang peng”komersiyal”an ala AAC di pelem KCB ini😈

@Zoel Najwa Comp,
katanya sih masih sekitar Oktober 2008, dan sekarang masih proses casting, sekaligus promosi🙂

@ckasih,😕

3 05 2008
Tgk. Alex

Disebut Alex Curran?!😯

Hayyyahh… saya bisa masuk kategori WAG’s Liverpool ini😆

3 05 2008
elrafiqy

Yup bener banget tu aku setuju dengan 3 kriteriya diatas, berarti akupun setuju jika Dede Herlino dianggap ga cucok, yang aku heran kenapa begitu banyak orang yang memvot diya, hingga keheranan ku itu membuat aku berasumsi bahwa ternyata muslin indonesia masih dangkal sekali wawasane, wawasan islame maosok wong koyo dude wes di anggep pantes untuk menjadi seorang azam???? moco Quran wae mawut2! aku wes tau krungu dee moco Quran ng sinetrone, apa lagi kholwate dee karo cewek2 masih jauh sekali dengan aturan Islam..yang aku tau Islam itu suci, so segala sesuatunya yo kudu suci termasuk cara dakwahe, syiare dan lebih wonge sing dakwah…yo ra??? bola bali tak aturke Lisaanul hali anthoqu min lisaanil maqool biso acting ng nek haliyahe koyo dude H yo islam ki tambah cepet le remuk.

5 05 2008
carra

hah??? Dude Herlino…😯 kaya ga ada yg laen yg bisa mewakili karakter aja… hayah! jangan ampe salah kasting deh… btw aku jg stuju… kali ini keindahan Mesir harus tereksploitasi habis!

5 05 2008
hafidzi

hehehe…..sy sangat setuju kalo diadakan di negeri sahara itu:D

6 05 2008
SIS

Casting nya sudah mulai ? ada yang tahu infonya gak … siapa tahu aja saya bisa masuk 3 kategori ini nih … (hihihi jadi malu, PD amat ya .. yo wis namanya juga komentar ..)

9 05 2008
yuki

mudah-mudahan pelemnya kalau jadi lebih bagus dari aac..

Kriterianya cukup ok!

karakternya harus seperti itu..

btw ko bisa ada orang yang merekomendasikan dude herlino?
sekalian aja Eliana nya Pegi melati sukma, yang jadi ana Hety kus endang, yang jadi Furqon ebit g ade

24 05 2008
tian

moga-moga gue yang jadi azzamnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: