Akhir-akhir ini semangkin banyak saja berita-berita yang memiriskan hati berseliweran, baik di berbage koran, liputan televisi maupun situs berita online. Belum lama yang lalu kita dikejutkan dengan kejadiyan gizi buruk yang menelan korban meninggal duniya di Makassar, namun kali ini aku prihatin dan trenyuh membaca kisah tragedi bunuh diri yang merenggut jiwa Teguh Miswadi (11 tahun), seorang anak pelajar kelas 5 SDN Pupus 02, Kecamatan Lembeyan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur.
Kejadiyannya sudah berlalu satu bulan silam, cukup kaget aku baru mengetahuinya saat ini. Menurut Sujarwo, guru Teguh, jalan bunuh diri tersebut sangat mungkin diambil Teguh karena tidak tahan akan rasa sakit akibat maag akut yang dideritanya. Penyakit ini seharusnya dilawan dengan makan teratur dan bergizi, namun justru itulah yang tak mungkin didapatkannya. Mengingat kondisi ekonomi keluwarganya yang jauh dari mapan, sehingga Teguh yang tinggal bersama neneknya, Ginah, yang buta pun harus puas makan satu kali sehari
Siang tadi di kantor juga sempet membaca berita di detik, tentang seorang kakek yang tertangkap mencuri dari kotak infaq Masjid Agung Palembang dengan menggunakan sebatang lidi. Cukup trenyuh membaca pengakuwannya, yang terpaksa mencuri karena tidak punya ongkos untuk pulang ke rumahnya. Lebih kasihan lagi saat membaca paragraf terakhir berita itu yang menyatakan bahwa perbuwatan tersebut akan mengantar si Kakek menjadi penghuni penjara
Sungguh mengenaskan nasib orang miskin di negri ini, alih-alih diberi solusi, malahan terus dikasih sanksi
Muncul satu pertanyaan sesudahnya,
Apakah pasal yang cukup mentereng diatas hanya untuk gagah-gagahan aja?


























Yang Baru Nyonthong!